SMPN Ngusikan Jombang Stimulus Siswa Gemar Baca Lewat Program Sudut Baca Kelas dan Gemar Berpuisi Lewat Metode KRISNA

Buletin10.idJombang – Berbagai cara untuk meningkatkan minat baca dan berpuisi di kalangan siswa sekolah kini mulai dilakukan dengan cara yang berbeda. Ruang baca di kelas maupun area perpustakaan yang lebih fresh dan tidak monoton, akan lebih disukai siswa sekolah untuk berlama-lama membaca.

Hal ini seperti yang terlihat di SMPN Ngusikan Jombang. Untuk menarik perhatian siswa-siswi agar gemar membaca dan berpuisi, pihak sekolah membuat program “Sudut Baca Kelas”.

Menariknya, hal itu dihadirkan di area kelas dan perpustakaan sekolah yang berlokasi di Jalan Seco Mulyo kecamatan Ngusikan.

Niat sekolah dalam membentuk kesukaan membaca dan kecintaan berpuisi ini memang sebagai salah satu bentuk untuk mewujudkan siswa-siswinya gemar berliterasi. Tentu saja berliterasi akan seiring dengan numerasi. Karena itu, setiap siswa diberi stimulus dengan gampang mencari bacaan buku dan karya puisi yang diinginkan kapan pun siswa ingin membaca. Namun terdapat satu metode khusus yag sengaja diciptakan oleh salah satu pendidik SMPN Ngusikan bernama Lukman Hidayat, MSi, MPd. Namanya metode KRISNA atau Kreasi Riddle Akrostik Nama.

“Jadi anak-anak biasanya kesulitan dalam membuat puisi. Padahal sebenarnya mudah. Karena pengertian puisi adalah ekspresi pengarang dengan menggunakan medium bahasa yang disusun dengan rasa seni yang tinggi untuk mengungkapkan suatu suasana tertentu. Nah untuk yang kesulitan membuat puisi, saya arahkan dengan diawali membuat puisi memakai metode KRISNA (Kreasi Riddle Akrostik Nama). Yaitu membuat puisi dengan singkatan atau nama siswa masing-masing,” jelas Lukman Hidayat atau yang akrab dipanggil Elha Ananta ini dengan ramah.

Dengan adanya kegiatan gemar membaca dan berpuisi, pihak SMPN Ngusikan, imbuh alumnus S-2 Universitas Islam Malang (Unisma) ini, ingin menumbuhkan semangat belajar dan membaca siswa-siswi agar meningkat lebih tinggi. Terlebih instruksi tersebut juga diminta oleh Kepala Sekolah SMPN Ngusikan, Sanuriyawati.

“Karena gemar membaca dan berpuisi ini juga telah diinstruksikan dan kita ingin siswa-siswi di SMPN Ngusikan ini menjadi generasi yang gemar baca dan berpuisi. Khusus untuk pembelajaran puisi dengan metode KRISNA kami fokuskan untuk para siswa kelas VIII,” papar guru SMP Berprestasi se Kabupaten Jombang tahun 2021 lalu. Kala itu, Lukman Hidayat membuat laporan best practice “Menulis Puisi Menggunakan Strategi KRISNA (Kreasi Riddle Akrostik Nama) pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri Ngusikan Jombang.

Lukman Hidayat yang kini menjabat sebagai Kepala Perpustakaan SMPN Ngusikan menjelaskan, metode KRISNA atau Riddle Akrostik Nama adalah teknik membuat puisi yang huruf awal pada setiap barisnya membentuk kata jika dibaca secara vertikal atau menurun. Huruf awal atau akrostik akan dijadikan petunjuk membuat puisi dalam suasana apapun. Sehingga proses pembuatan puisi menjadi mudah.

“Sehingga puisi tersebut sudah memberitahukan lewat ejaan huruf awal nama. Selanjutnya bisa dipastikan menulis atau membuat puisi itu menjadi sangat menyenangkan dan mudah,” pungkas Lukman Hidayat.

Sementara itu, masih dalam ruang yang sama, Kepala Sekolah SMPN Ngusikan Sanuriyawati, S.Pd menambahkan, program “Sudut Baca Kelas” sudah dilaksanakan sejak ia menjabat setahun lalu.

Sanuriyawati menjelaskan, “Sudut Baca Kelas” sebagai sarana koleksi bahan bacaan. Secara prinsip, pertama buku yang dibaca adalah buku non pelajaran. Kemudian yang kedua, para peserta didik dapat membawa bukunya sendiri dari rumah. Ketiga, sekolah akan menjadwalkan waktu untuk membaca. Selanjutnya terakhir, buku-buku yang dibaca peserta didik tentu harus sesuai minat dan kesenangannya siswa masing-masing.

“Tentu saja tujuannya adalah untuk meningkatkan rasa cinta membaca, meningkatkan kemampuan memahami bacaan dan untuk membuka akses peserta didik kepada sumber bacaan yang lebih luas,” urai Sanuriyawati.

Sanuriyawati menambahkan, jenis kegiatan yang akan dilaksanakan para peserta didik meliputi membaca dalam hati, membaca dengan nyaring dan disediakan waktu bagi para peserta didik untuk bertanya tentang buku yang telah dibaca.

“Tentu saja dalam pembuatan kegiatan “Sudut Baca Kelas” ini tidak boleh dilakukan sembarangan dan harus disusun secara menarik serta unik, agar siswa tertarik untuk membaca di masing-masing kelas VIII,” pungkas alumnus IKIP Negeri Malang ini mengakhiri perbincangan. (Sal)

Penulis: SalsaEditor: Salsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *