Ketua DPRD Jombang, Mas’ud Zuremi, Kiprah Politisi Senior 4 Periode

Buletin10.idJombang – Masyarakat Kota Santri, tentu sudah tak asing dengan sosok Ketua DPRD Jombang periode 2019-2024, Mas’ud Zuremi. Politisi senior partai berlambang 9 bintang atau PKB, yang akrab dipanggil Abah Mas’ud ini, telah menjabat sebagai wakil rakyat selama 4 periode. Kini Abah Mas’ud siap meyongsong menjadi wakil rakyat Jombang yang ke-5 kalinya. Bagaimana sosok wakil rakyat yang humble (rendah hati), simple (sederhana) dan capable (berkapasitas) ini mengarungi dunia politik kota santri? Berikut ulasannya.

Wakil Rakyat 4 Periode

Mas’ud Zuremi tercatat sebagai politisi senior PKB dan kenyang asam garam dunia politik di kota santri. Abah Mas’ud panggilan akrabnya, termasuk bukan politisi “kaleng-kaleng”. Ia mengikuti kontestasi sebagai wakil rakyat sejak Pemilu legislatif tahun 2004 silam. Hingga periode 2024, ia tercatat 4 periode sebagai anggota dewan yang terhormat. Ketika rekan-rekannya sesama anggota dewan hanya mampu bertahan satu hingga dua atau tiga periode, Abah Mas’ud tetap melenggang dengan meyakinkan di setiap perhelatan Pemilu Legislatif. Khusus periode 2019-2024 secara meyakinkan pula, suami Siti Aisyah ini terpilih sebagai Ketua DPRD Jombang.

Bicara soal kemampuannya sebagai penyambung lidah rakyat, “Arek” asli Sumobito Jombang kelahiran 13 November 1962 ini, tak perlu diragukan lagi. Terkini, Abah Mas’ud dengan lantang mengkritik keras ketidakbecusan manajemen PT Loya Sen Fong Tunggorono yang tidak mampu mengatasi limbah debu serbuk kayu selama 3 bulan terakhir “meracuni” warga di sekitar pabrik PMA tersebut.

Pendidikan dan Pengalaman Organisasi

Bicara soal Pendidikan, Abah Mas’ud menjalani masa pembelajaran dasar seperti umumnya warga Nahdliyin. Yakni dimulai dari setara Sekolah Dasar di MI Al Khoiriyah lulus tahun 1976 dan sekolah lanjutan yang sama di SMP Al Khoiriyah lulus tahun 1979.

Justru yang unik saat melanjutkan studi di jenjang SLTA. Sebagai warga asli NU, Abah Mas’ud justru melanjutkan pendidikan lanjutan atas di SMA Muhammadiyah Jombang hingga lulus tahun 1982. Ditanya alasan menuntut ilmu di luar sekolah berbasis NU, ia menjawab singkat, ”Karena saya ingin mendapatkan ilmu baru di luar sekolahnya “Wong NU,” jawabnya sembari berkelakar saat ditemui di ruang kerjanya.

Usai menamatkan pendidikan di SMA Muhammadiyah tahun 1984, Abah Mas’ud menuntut ilmu di STKIP PGRI Jombang dengan memilih program studi jurusan Pancasila dan Kewarga Negaraan (PKN).

Lantaran hobi berorganisasi, usai menamatkan pendidikan SMA dan berkuliah, Abah Mas’ud “coba-coba” menggeluti dunia politik praktis. Pilihannya saat itu, masuk jajaran pengurus PPP Jombang. Kala itu, jumlah Parpol era Orde Baru, sangat sedikit. Hanya PPP, Golkar dan PDI.

Usai gonjang-ganjing Reformasi Politik tingkat Nasional tahun 1998, Abah Mas’ud yang kala itu masih berumur 26 tahun merubah “halauan politiknya” dengan keluar dari PPP dan masuk ke PKB, yang didirikan Gus Dur.

Menurut ayah 2 putri dan 2 putra ini, selama “menerjunkan diri” dalam organisasi politik, ia mendapatkan begitu banyak pengalaman organisasi. Bahkan, reputasi politik Abah Mas’ud dipercaya di beberapa posisi jabatan strategis. Masing-masing pernah menjabat sebagai Sekretaris Dewan Syuro hingga Bendahara DPW PKB Jawa Timur. ”Saat ini saya masih diberi amanah sebagai Wakil Dewan Syuro PKB,” jelasnya.

Ikhwal inisiatif mencalonkan sebagai wakil rakyat, Abah Mas’ud mencoba peruntungan pada tahun 2004 silam. Alasannya, simpel. Selain sebagai bagian dari kecintaan dalam berorganisasi, juga lebih bermanfaat bagi umat.

“Dari awal coba-coba pada Pileg 2004, eeh..lha kok “bablas” jadi anggota dewan 4 periode. Dan mohon doa restu Pileg 2024 Februari nanti, Bismillah saya akan melanjutkan pengabdian untuk yang kelima kalinya,” ujarnya.

Sosok Tegas, Lugas dan Antusias

Sejak menjabat sebagai wakil rakyat, Abah Mas’ud dikenal sosok yang tegas, lugas dan antusias. Ketegasannya terhadap kebijakan pemerintah daerah dan pusat selalu dilakukan manakala ada kebijakan yang tidak pro rakyat. Demikian halnya dengan kelugasannya dalam menyikapi setiap fenomena perkembangan politik, hukum, pertahanan dan keamanan regional dan nasional. Selalu tak luput dari sorotannya untuk mengkritisi.

Terakhir soal antusiasnya dalam mengikuti setiap tahapan proses legislasi internal partai maupun lingkup dewan, Abah Mas’ud selalu mengikuti tanpa pernah absen. Kecuali sedang sakit atau berhalangan.

“Saya gak pernah absen dalam setiap agenda dewan. Selama saya sehat saya pasti hadir. Baik dalam sidang paripurna, hearing, rapat-rapat internal anggota dewan atau komisi dan kunjungan kerja baik bersama anggota legislatif maupun eksekutif. Tugas utama wakil rakyat adalah fungsi kontrol. Jadi harus dijalankan apapun kondisinya. Saya tidak pernah tertidur saat rapat-rapat meski dulu saya pernah difitnah salah satu oknum media online difoto saat sedang menunduk mengambil ballpoint, tapi ditulis seolah saya tertidur di atas meja,” ungkapnya.

Jadi Wakil Rakyat, Istri Disuruh Pensiun Jadi Guru

Ada sisi menarik saat Mas’ud Zuhremi terpilih sebagai wakil rakyat tahun 2004 lalu. Sang istri tercinta, Siti Aisyah langsung diperintahkan untuk “resign” menjadi tenaga pendidik. Alasannya agar bisa fokus pada keluarga dan tidak ada unsur “vested interest” atau benturan kepentingan. Sebab posisi sebagai wakil rakyat tentu rentan gosip dan isu tak sedap manakala, sang istri masih mengajar di salah satu sekolah.

“Sekaligus biar fokus pada urusan keluarga mengingat buah hati hasil pernikahan kami sudah empat,” katanya sambil menyebut nama keempat putra-putri hasil pernikahan dengan Siti Aisyah. Masing-masing Ika Rahmawati, Zuhrisa Noor Lailia, Bur Fahmi Rahmadani dan Nur Alfan Aminulloh.

Kiprah Sosial di Masyarakat

Di sela kesibukannya sebagai wakil rakyat, Abah Mas’ud ternyata tidak melupakan urusan akhirat. Hingga kini, ia diamanahi warga sebagai Ketua Yayasan Nurul Hikmah Dusun Ingas Pendowo Desa/Kecamatan Sumobito Jombang. Tak hanya itu saja, ia juga mendapatkan amanah sebagai Ketua Takmir Masjid Al Hikmah Sumobito.

“Alhamdulillah masih dipercaya warga. Urusan non politik ini sebagai penyeimbang agar saya selalu ingat dengan Sang Khalik dalam menjalani seluruh proses kehidupan. Imbang urusan dunia, imbang urusan akhirat,” pungkasnya sambil tersenyum ramah.(Sal)

Penulis: SalsaEditor: Salsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *